VALIDASI DARI TUHAN ATAU DARI LIKE DAN FOLLOWERS?
Di zaman digital
yang serba cepat ini, banyak orang—terutama anak muda—tanpa sadar mengukur
nilai dirinya dari angka-angka di media sosial. Berapa banyak like yang
didapat? Berapa followers yang bertambah? Seberapa sering konten dibagikan?
Semua itu seakan menjadi standar baru untuk menentukan apakah seseorang
dianggap menarik, berhasil, atau berpengaruh. Tidak sedikit yang merasa senang
luar biasa ketika unggahannya viral, tetapi juga merasa kecewa bahkan terpuruk
ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan. Pertanyaannya, apakah benar
nilai diri kita ditentukan oleh respons warganet? Ataukah seharusnya kita
mencari validasi dari sumber yang lebih kekal, yaitu Tuhan?
Pada dasarnya,
kebutuhan akan validasi adalah hal yang manusiawi. Setiap orang ingin diterima,
dihargai, dan diakui keberadaannya. Namun masalah muncul ketika kebutuhan
tersebut sepenuhnya digantungkan pada opini publik. Media sosial bekerja dengan
algoritma yang tidak selalu adil dan tidak selalu konsisten. Hari ini seseorang
bisa dipuji, besok bisa saja dilupakan. Hari ini disanjung, besok bisa dihujat.
Jika hati kita melekat pada penilaian manusia, maka emosi kita akan sangat
mudah terguncang.
Alkitab
mengajarkan bahwa identitas orang percaya tidak bergantung pada penilaian
dunia. Dalam Mazmur 139 ditegaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan
dahsyat dan ajaib. Artinya, nilai diri kita sudah ditetapkan oleh Tuhan sejak
awal, bukan ditentukan oleh jumlah pengikut. Bahkan sebelum kita dikenal orang
lain, Tuhan sudah mengenal kita secara pribadi. Ia melihat hati, motivasi, dan
pergumulan kita. Di hadapan-Nya, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang
lain demi mendapatkan pengakuan.
Rasul Paulus dalam
Galatia 1:10 menuliskan bahwa ia tidak berusaha menyenangkan manusia, melainkan
Tuhan. Ini adalah prinsip penting bagi orang percaya di era digital. Ketika
fokus hidup adalah menyenangkan Tuhan, maka kita tidak mudah terombang-ambing oleh
pujian maupun kritik. Sebaliknya, jika tujuan utama adalah menyenangkan
manusia, kita akan terus merasa kurang. Akan selalu ada standar baru yang harus
dicapai, tren baru yang harus diikuti, dan citra baru yang harus dibangun.
Media sosial
sering kali mendorong budaya pencitraan. Orang menampilkan sisi terbaik
hidupnya, tetapi jarang menunjukkan pergumulan atau kegagalannya. Akibatnya,
banyak yang membandingkan hidup nyata mereka dengan potongan-potongan kehidupan
orang lain yang sudah disaring dan dipoles. Perbandingan ini bisa menimbulkan
rasa tidak percaya diri, iri hati, bahkan depresi. Padahal Tuhan tidak pernah
meminta kita menjadi seperti orang lain. Ia memanggil kita untuk menjadi versi
terbaik dari diri yang sudah Ia ciptakan.
Validasi dari
Tuhan bersifat tetap dan tidak berubah. Kasih-Nya tidak naik turun mengikuti
performa kita. Ketika kita berhasil, Ia tetap mengasihi. Ketika kita gagal, Ia
tetap membuka tangan untuk memulihkan. Dunia digital bisa dengan cepat
“membatalkan” seseorang karena satu kesalahan, tetapi Tuhan memberi kesempatan
untuk bertobat dan bertumbuh. Inilah perbedaan mendasar antara validasi ilahi
dan validasi manusia.
Bukan berarti
media sosial harus dijauhi. Justru platform digital bisa menjadi sarana untuk
menyebarkan nilai-nilai kebaikan, membagikan firman Tuhan, dan menjadi terang
di tengah dunia maya. Namun motivasi hati harus dijaga. Apakah kita mengunggah
sesuatu untuk membangun orang lain atau sekadar mencari pujian? Apakah kita
tetap merasa berharga meskipun unggahan kita sepi respons? Kedewasaan rohani
terlihat dari kemampuan kita menggunakan media sosial tanpa diperbudak olehnya.
Anak muda Kristen
perlu membangun identitas yang kokoh di dalam Kristus. Ketika identitas sudah
berakar pada kasih Tuhan, maka like dan followers tidak lagi menjadi pusat
kebahagiaan. Pujian tidak membuat kita sombong, dan kritik tidak langsung
menghancurkan kita. Kita belajar menerima apresiasi dengan rendah hati dan
menerima kritik dengan bijaksana.
Pada akhirnya,
setiap orang harus memilih orientasi hidupnya. Apakah kita hidup demi sorotan
layar atau demi pandangan Tuhan? Validasi manusia bersifat sementara dan mudah
berubah. Validasi Tuhan bersifat kekal dan tidak tergoyahkan. Dunia menghitung
angka, tetapi Tuhan menilai kesetiaan. Dunia melihat tampilan luar, tetapi
Tuhan melihat hati.
Karena itu, marilah kita menempatkan Tuhan sebagai sumber utama identitas dan harga diri. Gunakan media sosial dengan bijak, tanpa menjadikannya ukuran utama nilai diri. Ketika kita tahu bahwa kita sudah dikasihi dan diterima oleh Tuhan, kita tidak lagi haus pengakuan semu. Kita bisa berkarya dengan tulus, melayani dengan sukacita, dan hidup dengan damai—bukan demi like dan followers, melainkan demi kemuliaan Tuhan yang memberi nilai sejati bagi hidup kita.

Posting Komentar untuk "VALIDASI DARI TUHAN ATAU DARI LIKE DAN FOLLOWERS?"